Selasa, 15 Agustus 2017

Full day school



Full day school
Full day school, berasal dari bahasa Inggris, berarti sekolah sepanjang waktu namun pengertian Full day school menurut istilah adalah sebuah sekolah yang membeiakukan jam belajar sehari penuh antara jam 07.00-15.30/ 16.00.
Full day school, adalah program sekolah di mana proses pembelajaran dilaksanakan sehari penuh di sekolah. Dengan kebijakan seperti ini maka waktu dan kesibukan anak-anak lebih banyak dihabiskan di lingkungan sekolah dari pada di rumah. Anak-anak dapat berada di rumah lagi setelah menjelang sore.
Full day school merupakan model sekolah umum yang memadukan sistem pengajaran agama secara intensif yaitu dengan memberi tambahan waktu khusus untuk pendalaman agama siswa. Dengan jam tambahan dilaksanakan pada jam setelah sholat dhuhur sampai sholat ashar, praktis nya sekolah model ini masuk pukul 07:00 WIB dan pulang pada pukul 15 : 30.
Menurut Sismanto, full day school merupakan model sekolah umum yang memadukan sistem pengajaran Islam secara intensif yaitu dengan memberi tambahan waktu khusus untuk pendalaman keagamaan siswa. Biasanya jam tambahan tersebut dialokasikan pada jam setelah sholat Dhuhur sampai sholat Ashar, sehingga praktis sekolah model ini masuk pukul 07.00 WIB pulang pada pukul 16.00 WIB.
Berangkat dari pengertian tersebut, disimpulkan bahwa full day school adalah Sekolah umum yang memadukan system pengajaran islam secara intensif dengan menambahi waktu khusus untuk pendalaman keagamaan siswa. Full day school sebenarnya memiliki kurikulum inti yang sama dengan sekolah umumnya, namun mempunyai kurikulum lokal. Dengan demikian kondisi anak didik lebih matang dari segi materi akademik dan non akademik. Secara umum, full day school didirikan karena beberapa tuntutan, diantaranya adalah: Pertama, minimnya waktu orang tua di rumah, lebih-lebih karena kesibukan di luar rumah yang tinggi (tuntutan kerja). Kedua, perlunya formalisasi jam tambahan keagamaan karena dengan minimnya waktu orang tua di rumah maka secara otomatis pengawasan terhadap hal tersebut juga minim. Ketiga, perlunya peningkatan mutu pendidikan sebagai solusi alternatif untuk mengatasi problematika pendidikan. Peningkatan mutu tidak akan tercapai tanpa terciptanya suasana dan proses pendidi kan yang representative dan professional.
Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor menolak program full day school atau lima hari sekolah yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Dia menyatakan, lembaga pendidikan agama Islam selama ini mampu mengubah karakter bangsa dengan baik. Tak hanya itu, lima hari sekolah tidak akan bermakna sebagai pendidikan karakter jika madrasah diniyah dan taman pendidikan Alquran (TPQ) gulung tikar. Menurutnya, yang lebih dikhawatirkan full day school adalah akan membuat anak tidak bisa belajar mengaji atau menghafal Alquran yang rutin mereka lakukan di majelis taklim maupun di madrasah."Karena sudah terlalu capek bersekolah seharian, anak-anak jadi malas belajar mengaji. Habis magrib pasti buat istirahat .
Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PPP, Asep Maoshul mengatakan program full day school yang diwacanakan pemerintah terlalu dipaksakan. Seharusnya pemerintah mempersiapkan terlebih dahulu secara matang program tersebut. "Kalau full day school dinyatakan bagus, sudah sejauhmana persiapan pemerintah menyiapkan itu. Itu kan 8 jam, bisa dibayangkan anak SD makan siangnya di mana? Siapa yang mau beri makan? Jelas-jelas merepotkan," kata Asep saat ditemui di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, Selasa 15 Agustus 2017. Kata Asep, full day school sudah terbiasa di usia Sekolah Dasar. Hanya saja beda nama. "Kalau pagi sekolah SD, siang madrasah diniyah. Jika semua itu ditarik ke sekolah sama saja membunuh karakter pendidikan lokal, pendidikan madrasah diniyah," dia menegaskan. Asep menambahkan, pelaksanaan full day school tidak logis. Pelaksanaan program ini di Indonesia perlu beberapa persiapan.
"Di sekolah perlu ada ruang makan, siapa pemberi makannya, guru siap beri ransum anak-anak?" ujarnya. Presiden Jokowi, kata Asep sudah menyatakan full day school tidakperludipaksakan.
Jika ingin menerapkan full day school seharusnya ada pengkajian, penelitian yang lebih dalam dan sosialisasi kepada seluruh jenjang pendidikan terutama sekolah menengah karena masih banyak sekolah-sekolah yang belum mengatahui apa itu full day school ? apalagi yang dipelosok pedesaan.
Jikan ingin menerapkan full day school bisa tapi sifatnya elementer artinya sekolah yang mampu menerapkan utamanya sekolah menengah seperti SMA dan SMP yang perkotaan karena salah satu tujuan full day school yaitu pembentukan karakter sedangkan kebanyak krisis karakter kota metropolitan.


Read more at https://www.tempo.co/read/news/2017/08/15/173899975/anggota-dpr-ini-sebut-full-day-school-matikan-pendidikan-lokal#hmwXEZ5IQJYTzeQU.99
Richard I. Arends, Learning To Teacch, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008)